OpenStreetMap logo OpenStreetMap

Riau: Empat Sungai Raksasa

Posted by Rivai Sigit on 9 August 2025 in Indonesian (Bahasa Indonesia). Last updated on 16 August 2025.

Riau: Empat Sungai Raksasa

Pembukaan

Dua hingga tiga abad sebelum kita mengenal provinsi yang bernamakan Riau, dahulu para pelaut mengetahui daerah ini sesuai dengan nama sungai besar yang ada. Sungai Rokan, Siak, Kampar, dan Indragiri, terkenal dengan sumber daya yang mereka bawa ke berbagai pusat perdagangan di Selat Melaka. Kedatangan Portugis ke Melaka dianggap sebagai titik mula nama ‘Riau’ terdengar, karena kata ‘Sungai’ dalam bahasa Portugis adalah ‘Rio’. Mungkin penjajah Portugis pada zaman itu tidak bisa mengucapkan nama-nama sungai tersebut dengan baik, dan perubahan simpel dengan merujuk mereka sebagai ‘orang-orang sungai’ lebih mudah bagi mereka untuk diingat.

Tiap sungai ini mempunyai sejarah & ciri khas-nya tersendiri, dan diary ini akan mencoba untuk menjelaskan secara singkat tentang keberadaan empat sungai besar yang ada di Riau.

Rokan: Sungai Kejayaan

Sungai Rokan

Pertemuan dua sungai kecil menjadi suatu kesatuan yang besar, itulah Sungai Rokan, sungai yang pamongnya sering redup dan bercahaya kembali. Hulunya berasal dari 2 sungai kecil yang mempunyai cerita tersendiri. Sungai Rokan Kanan, dengan banyaknya orang Mandailing yang menetap sejak dulu. Hingga Sungai Rokan Kiri, dengan orang Pasaman yang mencari hilir dari sungai yang tanahnya subur ini. Pertemuan sungai ini menjadi Sungai Rokan yang besar yang kemudian menjadi batas alami bagi orang Melayu Rokan yang sekarang banyak tinggal di Kabupaten Rokan Hilir.

Pada muaranya, sungai ini menjadi berkah bagi banyak orang dengan kelimpahan potensi maritimnya. Mengundang banyak orang dari berbagai belahan dunia untuk mencari peruntungan, seperti etnis Tionghoa misalnya. Bagansiapi-api, kota yang terletak di hilir dari Sungai Rokan, sempat menjadi kota dengan tangkapan maritim terbesar ke-dua di dunia pada tahun 1930an. Eksploitasi yang berlebihan telah menyebabkan posisi ini tergeser hingga saat ini, menyisakan hanya cerita masa kejayaan lampau.

Kendati demikian, nasib Sungai Rokan sepertinya akan kian membaik dengan rencana Pertamina untuk melakukan eksplorasi minyak bumi di blok yang mereka namakan ‘Blok Rokan’. Sungai Rokan sendiri telah menghidupi dua kota besar yang menjadi sentra ekonomi terbesar di Riau, seperti Duri dan Dumai.

Siak: Sungai Pemrakarsa

Jembatan Siak III

Dengan kedalaman sungai sedalam 18-30 meter, sungai ini merupakan bukti sejarah kejayaan Kerajaan Siak. Sungai-nya yang sangat dalam, subur, dan dipenuhi kekayaan alam, membuat kerajaan yang menguasainya akan menjadi sangat kuat relatif dengan kelebihan yang sungai ini miliki. Meskipun pada ujungnya, dua kekuatan kolonial; Inggris dan Belanda, membuat mereka yang kuat seperti Kerajaan Siak pun tetap tunduk.

Kedatangan Belanda di Sungai Siak ini membuat Kerajaan Siak pada abad ke-18 sangat terganggu, sehingga mereka memutuskan untuk pindah ke kota yang nantinya akan menjadi kota terbesar di Sumatera Tengah, Pekanbaru. Posisi Pekanbaru yang dekat dengan Sungai Kampar ini mempertemukan dua sungai yang sebelumnya hanya bisa diarungi apabila keluar terlebih dahulu ke hilir-nya. Dari Pekanbaru juga, eksplorasi minyak bumi yang nantinya menjadi sumber kekuatan ekonomi provinsi bermula. Sekitar 20 kilometer utara dari Pekanbaru adalah Minas, tempat ditemukannya ladang yang penuh dengan emas dari bawah tanah.

Dua dekade sebelumnya dari diari ini ditulis, di sepanjang sungai Siak penuh dengan banyak industri dan pabrik seperti perkayuan, minyak bumi, sawit, dan pusat agrikultur. Akan tetapi semenjak sungai ini semakin dangkal, dan pengangkutan sumber daya yang dinilai lebih ekonomis lewat jalur darat, membuat sungai Siak kini hanya tinggal nama saja.

Kampar: Sungai Legendaris

Wisata Ombak Bono

Salah satu sungai yang digunakan untuk mengantar kekayaan alam dari bumi Andalas ke Selat Melaka, sungai ini merupakan pusat agrikultur sejak dulu. Tanahnya yang sangat subur di hulu, juga sebanding bahayanya dengan mengarungi hilir-nya yang mempunyai arus kuat nan deras. Sungai ini juga merupakan asal muasal moyang dari penulis. Oh ya ngomong-ngomong nenek moyang, di sungai inilah juga ditemukan salah satu peninggalan candi paling utuh di provinsi Riau, Candi Muara Takus.

Sebelum menjadi sungai yang besar, sungai ini dialiri oleh dua sungai kecil; Sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Namun peran Sungai Kampar Kanan lebih melekat bagi yang mereka kenal sebagai Sungai Kampar selama ini. Menjadi pusat kebudayaan orang Kampar, serta kepadatan penduduk yang sangat ramai di sepanjang sungai-nya membuat sungai kecil ini lebih dikenal. Meskipun pada ujungnya dua sungai kecil ini bertemu, muara dari Sungai Kampar ini sangat berawa dengan keasaman tanah yang sangat asam, membuat bagian hilir-nya kurang subur dan jarang penduduk. Inilah yang membuat perjalanan ke Selat Melaka sangat berbahaya, terutama dengan gelombang yang dikenal sebagai ‘Gelombang Bono’.

Sungai ini kini menjadi pusat penghidupan bagi kota industri besar di Riau, yaitu Pangkalan Kerinci, namun juga digunakan untuk membawa hasil perkayuan dan sawit. Pada hilirnya, sungai ini juga digunakan untuk wisata surfing sungai, salah satu objek wisata yang jarang ditemukan di dunia.

Indragiri: Sungai Bermakna

Pacu Jalur

Pada hulunya sungai ini dikenal dengan nama Batang Kuantan, hingga mengarah ke muaranya kemudian dikenal dengan nama Sungai Indragiri. Kendati apapun nama yang anda berikan untuk sungai ini, Sungai Indragiri merupakan sungai yang telah memberikan harapan bagi banyak masyarakatnya sejak dahulu.

Di Teluk Kuantan misalnya, banyak orang dari Dharmasraya yang kemudian bermigrasi ke arah Selat Melaka. Salah satunya adalah di Teluk Kuantan, pusat agrikultur yang ada di Provinsi Riau. Untuk menghormati sungai yang selama ini telah menghidupi mereka, orang-orang yang juga dikenal sebagai orang Taluk ini membuat ajang pacu sampan di Tepian Narosa. Acara ini menjadi salah satu festival terbesar di Indonesia, dan baru-baru ini aura-nya menyebar ke seluruh dunia dan kini dipopulerkan sebagai bentuk komedi kontemporer, atau yang kita sebut juga sebagai ‘meme’.

Bagaimana dengan hilirnya yang penuh dengan rawa? Ternyata banyak juga yang menaruh harapan di tempat ‘inhospitable’ ini. Sebut saja orang-orang Bugis & Banjar yang datang bersamaan saat Kerajaan Gowa-Tallo tunduk ke tangan VOC, mereka berlayar jauh ke Sumatera untuk mencari tempat aman bagi mereka sembunyi dari porak-porandanya kampung mereka kala itu. Bagi mereka Sungai Indragiri merupakan rumah baru, hingga mereka meneruskan keturunannya hingga saat ini.

Email icon Bluesky Icon Facebook Icon LinkedIn Icon Mastodon Icon Telegram Icon X Icon

Discussion

Log in to leave a comment